Sabtu, 24 November 2012

Jembatan KA sungai Progo

Jembatan KA yang melintasi sungai Progo di lintas Katuarjo - Yogyakarta ini memang unik. Desainnya yang tidak memiliki pilar ditengahnya hanya terdapat 2 di dunia ini. yang satu berada di negara kincir angin Belanda dan yang satu di Kulonprogo ini. Itu pun yang di Belanda sudah tidak di fungsikan lagi, jadi bangga dikit boleh lah.














Jembatan sepanjang 96 m ini sudah beroperasi sejak 1957 sampai sekarang masih tetap kokoh dan masih dapat menahan tekanan kereta api yang melintasinya dengan bobot sekitar 20 ton dan dengan kecepatan lebih kurang 100 km/jam.
Berdasarkan gambar salinan yang dibuat tahun 1989, perencanaan pembangunan jembatan ini sudah dimulai tahun 1930 oleh DC Maussart dan langsung dikerjakan pada hari yang sama oleh CHJ Deighton dan disetujui oleh Ir Jansen, (siapa mereka? cari aja di internet :D)

Jembatan ini tahan gempa karena titik tumpuan tidak mati dan bisa bergeser sesuai pergerakan tanah pada kedua ujung jika terjadi gempa. Titik tumpu jembatan ini menggunakan rol yang terletak dibagian bawah jembatan.
Konstruksi jembatan ini disebut Bijlaard Bent dipilih oleh Belanda karena arus di sungai progo cukup deras. Lebih aman karena tidak di letakkan di tengah sungai. Hebatnya lagi rangka jembatan ini dibuat dengan menggunakan rangka baja kelas tinggi (fero).














Saat ini banyak warga Belanda yang datang ke jembatan ini untuk mempelajari konstruksi jembatan karya nenek moyang mereka karena jembatan di negeri mereka sendiri sudah tidak difungsikan lagi. Sayangnya warga setempat tidak menyadari keunikan dari jembatan tersebut termasuk saya juga sih.

Untuk penampakan gambar jembatan di Belanda sendiri masih belum nemu..

sumber : kaskus.co.id 

Mengapa Banyuwangi - Bali tidak dihubungkan dengan sebuah Jembatan?

Sebenarnya kepengin sih jembatannya seperti Suramadu (Surabaya-Madura), kalau jembatan ini nantinya jadi dibangun mungkin namanya Baba (Banyuwangi-Bali) atau apalah... nanti aja masalah nama dibangun aja belum tentu :D
Sebelum kita pertanyakan mengenai struktur jembatannya, model, apalagi namanya. Kita bahas dulu yang ringan-ringan dan siple dulu. Setuju kan? setuju aja deh, biar artikelnya lanjut.

Nah, seperti yang kita tau jarak antara Banyuwangi dan Pulau Bali adalah sekitar 10 km dan untuk menghubungakan kedua pulau ini alat transportasi satu-satunya dari jalur darat, kita masih bergantung pada jasa kapal ferry dengan jarak tempuh, dulu sih sekitar 30 menitan tapi sekarang 30 menit molor-molor, 1 jam kurang tepatnya. Tidak ada lagi alternatif jalur transportasi selain laut yang membuat sering terjadinya antrian panjang kendaraan dalam pelabuhan, belum lagi saat pelabuhan terpaksa ditutup karena cuaca buruk, wahh parah banget tuh, antrian ratusan kendaraan sampai luar pelabuhanpun terjadi. Dan dampaknya pun juga berimbas pada roda perekonomian yang pasti terhambat pula.

Ya mungkin salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan di atas adalah dengan pembangunan sebuah jembatan yang menghubungkan Banyuwangi dengan bali, mengingat pertumbuhan kepadatan kendaraan yang setiap hari terus meningkat.
Tapi saya yakin pembangunan sebuah jembatan ini bukan tanpa kendala, pasti ada hambatan dan kendala untuk mewujutkanya, seperti...emmmm...emmmm...emmmm...masih belum terfikirkan.

nah,sekian dulu artikel tentang jembatan Baba (kalau jadi), semoga bermanfaat..